Sabtu, 18 Februari 2017

 Letak Geografis
Kabupaten Bojonegoro, yang beribukotakan kota Bojonegoro ini, berbatasan langsung dengan Kabupaten Tuban di utara, Kabupaten Lamongan di timur, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi di selatan, serta Kabupaten Blora, Jawa Tengah, di barat.
Bojonegoro pada masa lampau merupakan wilayah yang mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Hindu yang datang sejak abad I. Dan hingga abad ke 16, Bojonegoro merupakan salah satu bagian Kerajaan Majapahit. Lalu, pada abad ke 16 Bojonegoro masuk dalam kekuasaan kerajaan Demak. Setelah ajaran Islam mulai menyebar di tanah Jawa, akhirnya pengaruh budaya Hindu terdesak dan muncul nilai-nilai baru dalam masyarakat disertai dengan adanya pergolakan yang masuk dalam sejarah kerajaan Pajang di tahun 1586 dan kemudian kerajaan Mataram 1587.
Bojonegoro mungkin kota kecil, tapi di wilayah banyak tersimpan hal-hal yang patut untuk dieksplor lebih dalam, baik dari segi sejarah, budaya dan bagaimana masyarakatnya berkembang. Semua hal yang menjadi bagian wilayah ini sangat menarik, seperti kebudayaan, tradisi, makanan khas dan tentu saja, pariwisatanya


Bengawan Solo mengalir dari selatan, menjadi batas alam dari Provinsi Jawa Tengah, kemudian mengalir ke arah timur, di sepanjang wilayah utara Kabupaten Bojonegoro. Bagian utara merupakan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau. Bagian selatan adalah pegunungan kapur, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian barat laut (berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara.
Kota Bojonegoro terletak di jalur Surabaya-Cepu-Semarang. Kota ini juga dilintasi jalur kereta api jalur Surabaya-Semarang-Jakarta.

 Sejarah Bojonegoro
 Masa kehidupan sejarah Indonesia Kuno ditandai oleh pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India sejak Abad I. Hingga abad ke-16, Bojonegoro termasuk wilayah kekuasaan Majapahit. Seiring dengan berdirinya Kesultanan Demak pada abad ke-16, Bojonegoro menjadi wilayah Kerajaan Demak. Dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam dengan disertai perang dalam upaya merebut kekuasaan Majapahit (wilwatikta). Peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah Kerajaan Pajang (1586), dan kemudian Mataram (1587).
Pada tanggal 20 Oktober 1677, status Jipang yang sebelumnya adalah kadipaten diubah menjadi kabupaten dengan Wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Tumapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang. Tanggal ini hingga sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Bojonegoro. Tahun 1725, ketika Pakubuwono II (Kasunanan Surakarta) naik tahta, pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dipindahkan dari Jipang ke Rajekwesi, sekitar 10 km sebelah selatan kota Bojonegoro sekarang.

Potensi Bojonegoro
1) Sumber Daya Alam
 Kabupaten Bojonegoro adalah salah satu sumber deposit  minyak bumi dan gas alam terbesar di Indonesia. Tambang Minyak Bumi dan Gas Alam di Kabupaten Bojonegoro berlokasi di kecamatan Ngasem tepatnya di Desa Mojodelik, Brabohan, Wonorejo. Tambang Minyak Bumi dan Gas Alam dikelola secara tradisional dan mekanis. Penambangan tradisional dikelola oleh masyarakat dengan peralatan sederharna.

2) Industri Kerajinan
 
a. Bubut Kayu 
bubut-kayu-kasiman
Kerajinan bubut kayu telah lama ditekuni oleh masyarakat desa Batokan Kecamatan Kasiman yang letaknya pada ujung barat Kabupaten Bojonegoro. Kerajinan ini lebih banyak memanfaatkan limbah gergaji kayu jati. Produksi berupa barang-barang souvenir, ornamen dan aksesoris penghias rumah serta keperluan rumah tangga lainnya. Prospek pemasarannya telah menjangkau berbagai kota di luar Kabupaten Bojonegoro dan telah merambah ke pasar luar negeri (export).

b. Kerajinan Patung  Sapi
Kerajinan-patung-sapi-banaran
Kerajinan patung sapi dengan bahan baku dari hasil hutan (kayu jati) merupakan kerajinan yang memiliki keunikan dan spesifik, karena kerajinan ini diolah melalui tangan-tangan terampil yang penuh dengan kesabaran dan ketekunan. Sentra industri kerajinan patung sapi terdapat di desa Banaran Kecamatan Malo dan sekitarnya. Prospek pasar produk telah menjangkau kota-kota di Propinsi Jawa Timur dan propinsi lainnya serta ke luar negeri sebagai bahan souvenir.

c. Gerabah
GERABAH-MALO
Desa rendeng Kecamatan Malo yang berada di tepi bengawan solo, merupakan sentra industri gerabah dengan sumber bahan baku dari tanah liat. Produk utama berupa “celengan” (tempat menabung uang) dengan bentuk meniru bentuk binatang seperti macan, sapi, bebek dan bentuk lainnya yang unik.

d. Batu ONYX
kerajinan-batu-onyx-bojonegoro
Bojonegoro memiliki tambang batu onix yang melimpah sehingga berbagai produk kerajinan onix dapat dihasilkan dengan kualitas sangat memuaskan. Rekahan-rekahan yang mengandung batu ONYX yang berada di gunung kramat di desa Jari, kecamatan gondang dan sekitarnya. Penduduk setempat telah mengusahakan sebagai usaha kerajinan dengan produk berupa souvenir, ornamen penghias ruang  dan perabot rumah tangga dengan prospek pasar selain pasar lokal juga telah menjangkau pasar di luar Kabupaten Bojonegoro.

e. Batik Jonegoroan
Batik-Jonegoroan
Industri kerajinan batik yang terkenal di Kabupaten Bojonegoro yaitu motif batik Jonegoroan. Beberapa kecamatan yang menjadi sentra industri batik daerah tersebut antara lain di Kecamatan Sumberejo, Temayang, Dander, Purwosari, dan Kecamatan Kota Bojonegoro. 
 
3) Wisata
a. Tirtawana Dander
Tirtawana-Dander
Terletak di Desa/Kec. Dander dengan jarak tempuh sekitar 12 KM ke arah selatan kota Bojonegoro. keunggulan dari wisata ini yaitu tempat yang sangat luas dan dilengkapi dengan padang golf, wisata ini sangat cocok untuk anak-anak karena selain padang golf, disana juga terdapat berbagai macam permainan anak-anak, seperti taman bermain, kolam untuk mandi bola, kolam renang dan sungai yang sangat jernih dengan keadaan sekelilingnya yang sejuk dan tentu saja bebas dari polusi.

b.Kahyangan Api
kahyangan-api
Berlokasi di Desa Sendangharjo Kec. Ngasem dengan jarak tempuh sekitar 21 KM ke arah barat Kota. Kahyangan Api merupakan sumber api alam yang menyala sepanjang tahun. dan terletak pada posisi yang sangat strategis yaitu dikelilingi oleh hutan-hutan yang dilindungi dan bebas dari pencemaran polusi. selain sumber api abadi di kahyangan api juga terdapat mata air yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Anehnya air ini dari jauh berbau busuk tetapi setelah mendekat baunya itu hilang dan dari jauh air ini kelihatang seperti air mendidih tetapi kalau kita sudah mengambilnya maka air tersebut terasa dingin dan sejuk.
  
c.Waduk Pacal
Waduk-Pacal
Berlokasi di Kecamatan Temayang dengan jarak tempuh sekitar 36 KM  ke arah Selatan Kota, dengan fasilitas Wisata alam pegunungan perairan, memancing dan berperahu. Wisata ini menyuguhkan lingkungan alam yang sangat mempesona karena di kelilingi oleh bukit-bukit yang sangat indah.
 
e.Negeri Atas Angin
 Atas angin adalah nama sebuah desa di kawasan kecamatan Sekar, Bojonegoro yang berbatasan langsung dengan kabupaten Madiun. Objek wisata ini memberikan pemandangan di atas puncak yang tentunya akan membuat anda terkagum-kagum dan mensyukuri keindahan yang maha kuasa. Untuk mencapai tempat ini, perjalanan yang anda lalui cukup mudah karena letaknya yang hanya berada di ketinggian 650 Mdpl.
 
f.Bendungan Gerak 
 
Bendungan Gerak Bojonegoro adalah bendungan pada Bengawan Solo yang terletak di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu dan Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Peroyek Bendungan yang menghabiskan dana pinjaman senilai Rp.351 miliar dari Japan International Corporation Agency (JICA) itu memiliki multifungsi. Antara lain sebagai pengendali banjir, irigasi, penyedia air baku bagi industri dan rumah tangga juga dicanangkan sebagai salah satu tempat wisata bagi Kabupaten Bojonegoro. Keberadaan Bendungan Gerak ini fungsinya di samping sebagai penyedia air untuk rumah tangga, pertanian, juga sekaligus menjaga dari kerusakan ekosistem sungai Bengawan Solo supaya tak meluas ketika banjir menerjang dan sebagai bentuk tata kelola air di Jawa Timur.
 
 4) Perkebunan dan Pertanian

a. Blimbing Ngringinrejo blimbing-ngringinrejo
Blimbing dengan berat 2 - 3 ons per buah dapat dijumpai di kebun buah desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Rasanya manis, segar dan harum, sangat tepat untuk hidangan penutup, rujak dan lain-lain.

b. Salak Wedi
salak-wedi
Salah satu industri agrobisnis yang berkembang pesat di daerah Bojonegoro yaitu potensi bisnis salak wedi. Salak tersebut dinamakan wedi sesuai dengan nama desa tempat asalnya, yaitu di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Salak Wedi rasanya manis, masir, renyah, segar dan besar. Yang dapat dijumpai di setiap pekarangan rumah penduduk di desa Wedi Kecamatan Kapas dan sekitarnya. Perbedaan Salak Wedi dengan salak lain, seperti Salak Pondoh, adalah kandungan air yang lebih banyak sehingga membuat Salak Wedi terasa lebih segar, hal inilah yang menjadikan salah wedi banyak diburu para konsumen sebagai buah tangan khas Bojonegoro.

c.Tembakau
tembakau
Bojonegoro adalah penghasil tembakau virginia terbesar di Indonesia dan telah lama dikenal sebagai tembakau terbaik di dunia. Selain tembakau virginia ada juga Tembakau Jawa yang ditanam petani secara konvensional hampir di wilayah Bojonegoro dan telah di eksport ke Jerman, Hongkong dan Brunai.
 

 
Kepala Daerah Bojonegoro
Sebelum kemerdekaan
Tahun Nama
1943-1945 R. Tumenggung Oetomo
1937-1943 R. Tumenggung Achmad Surjodiningrat
1936-1937 R. Dradjat
1916-1936 R. Adipati Aryo Kusumoadinegoro
1890-1916 R. Adipati Aryo Reksokusumo
1888-1890 R. M. Sosrokusumo
1878-1888 R. M. Tumenggung Tirtonoto II
1844-1878 R. Adipati Tirtonoto I
1828-1844 R. Adipati Djojonegoro
1827-1828 R. Tumenggung Sosrodilogo
1825-1827 R. Adipati Djojonegoro
1823-1825 R. Tumenggung Purwonegoro
1821-1823 R. Tumenggung Sosrodiningrat
1816-1821 R. Tumenggung Sumonegoro
1811-1816 R. Prawirosentiko
1800-1811 R. Ronggo Djenggot
1760-1800 R. M. Guntur Wirotedjo
1756-1760 R. Purwodidjojo
1755-1756 R. Ronggo Prawirodirjo I
1743-1755 R. Tumenggung Hario Matahun III
1741-1743 R. Tumenggung Hario Matahun II
1718-1741 Ki Songko (R. Tumenggung Hario Matahun I)
1705-1718 Ki Wirosentiko (R. Tumenggung Surowidjojo)
1677-1705 Pangeran Mas Toemapel
Sesudah kemerdekaan
Tahun Nama
2013-2018 Drs. H. Suyoto, M.Si.
2008-2013 Drs. H. Suyoto, M.Si.
2003-2008 Kolonel Inf (Purn.) H.M. Santoso
1998-2003 Drs. H. Atlan
1993-1998 Drs. H. Imam Soepardi
1988-1993 Drs. H. Imam Soepardi
1983-1988 Drs. Soedjito
1978-1983 Drs. Soeyono
1973-1978 Kolonel Inf (Purn.) Alim Sudarsono
1968-1973 Letkol Inf (Purn.) Sandang
1960-1968 R. Tamsi Tedjo Sasmito
1959-1960 R. Soejitno
1955-1959 R. Baruno Djojoadikusumo
1951-1955 Mas Kusno Suroatmodjo
1950-1951 R. Sundaru
1949-1950 R. Tumenggung Sukardi
1947-1949 Mas Surowijono
1945-1947 R. Tumenggu     
 
Monumen atau Penghargaan di Bojonegoro
 
 1. patung pahlawan Lettu,Sujitno
patung ini terletak di tengah alun-alun kota bojonegoro, patung ini dikelilingi oleh taman yang asri sebagai perwujudan menghormati Lettu.Sujitno
2. patung pahlawan di TMP Bojonegoro
patung ini terletak di sebelah selatan alun-alun kota Bojonegoro, patung ini juga dikelilingi dengan makam-makam pahlawan yang memperjuangkan Bojonegoro.
3.Monumen Adipura
Monumen atau penghargaan yang diberikan kepada Bojonegoro atas kebersihan dan keindahan kota dan kerapian penataan kota Bojonegoro
4.Bundaran Jetak
Bundaran ini bisa traveler temukan jika datang ke Bojonegoro dari arah barat. Sementara perempatan di bundaran ini menuju ke daerah-daerah lain seperti Nganjuk jika mengambil jalan ke arah selatan, Cepu di sisi barat dan pusat kota Bojonegoro jika traveler mengambil jalan yang menuju arah utara dan timur.
Pada rentang tahun 90-an hingga 2010, Bundaran Jetak hanya berupa bundaran biasa yang di tengahnya terdapat tiang lampu sebagai penerangan jalan. Namun tahun 2011, bundaran tersebut direnovasi untuk memunculkan nilai estetikanya dengan menambahkan taman air oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Bojonegoro.

Terima Kasih atas perhatiannya jika ada salahnya mohon coment
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar