Kabupaten Bojonegoro, yang beribukotakan kota Bojonegoro ini, berbatasan langsung dengan Kabupaten Tuban di utara, Kabupaten Lamongan di timur, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi di selatan, serta Kabupaten Blora, Jawa Tengah, di barat.
Bojonegoro pada masa lampau merupakan wilayah yang mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Hindu yang datang sejak abad I. Dan hingga abad ke 16, Bojonegoro merupakan salah satu bagian Kerajaan Majapahit. Lalu, pada abad ke 16 Bojonegoro masuk dalam kekuasaan kerajaan Demak. Setelah ajaran Islam mulai menyebar di tanah Jawa, akhirnya pengaruh budaya Hindu terdesak dan muncul nilai-nilai baru dalam masyarakat disertai dengan adanya pergolakan yang masuk dalam sejarah kerajaan Pajang di tahun 1586 dan kemudian kerajaan Mataram 1587.
Bojonegoro mungkin kota kecil, tapi di wilayah banyak tersimpan hal-hal yang patut untuk dieksplor lebih dalam, baik dari segi sejarah, budaya dan bagaimana masyarakatnya berkembang. Semua hal yang menjadi bagian wilayah ini sangat menarik, seperti kebudayaan, tradisi, makanan khas dan tentu saja, pariwisatanya
Bengawan Solo mengalir dari selatan, menjadi batas alam dari Provinsi Jawa Tengah, kemudian mengalir ke arah timur, di sepanjang wilayah utara Kabupaten Bojonegoro. Bagian utara merupakan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau. Bagian selatan adalah pegunungan kapur, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian barat laut (berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara.
Kota Bojonegoro terletak di jalur Surabaya-Cepu-Semarang. Kota ini juga dilintasi jalur kereta api jalur Surabaya-Semarang-Jakarta.
Sejarah Bojonegoro
Masa kehidupan sejarah Indonesia Kuno ditandai oleh pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India sejak Abad I. Hingga abad ke-16, Bojonegoro termasuk wilayah kekuasaan Majapahit. Seiring dengan berdirinya Kesultanan Demak pada abad ke-16, Bojonegoro menjadi wilayah Kerajaan Demak. Dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam dengan disertai perang dalam upaya merebut kekuasaan Majapahit (wilwatikta). Peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah Kerajaan Pajang (1586), dan kemudian Mataram (1587).
Pada tanggal 20 Oktober 1677, status Jipang yang sebelumnya adalah kadipaten diubah menjadi kabupaten dengan Wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Tumapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang. Tanggal ini hingga sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Bojonegoro. Tahun 1725, ketika Pakubuwono II (Kasunanan Surakarta) naik tahta, pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dipindahkan dari Jipang ke Rajekwesi, sekitar 10 km sebelah selatan kota Bojonegoro sekarang.
Potensi Bojonegoro
1) Sumber Daya Alam
Kabupaten Bojonegoro adalah salah satu sumber deposit minyak bumi dan gas alam terbesar di Indonesia. Tambang Minyak Bumi dan Gas Alam di Kabupaten Bojonegoro berlokasi di kecamatan Ngasem tepatnya di Desa Mojodelik, Brabohan, Wonorejo. Tambang Minyak Bumi dan Gas Alam dikelola secara tradisional dan mekanis. Penambangan tradisional dikelola oleh masyarakat dengan peralatan sederharna.
2) Industri Kerajinan
a. Bubut Kayu
Kerajinan bubut kayu telah lama ditekuni oleh masyarakat desa Batokan
Kecamatan Kasiman yang letaknya pada ujung barat Kabupaten Bojonegoro.
Kerajinan ini lebih banyak memanfaatkan limbah gergaji kayu jati.
Produksi berupa barang-barang souvenir, ornamen dan aksesoris penghias
rumah serta keperluan rumah tangga lainnya. Prospek pemasarannya telah
menjangkau berbagai kota di luar Kabupaten Bojonegoro dan telah merambah
ke pasar luar negeri (export).
b. Kerajinan Patung Sapi
Kerajinan patung sapi dengan bahan baku dari hasil hutan (kayu jati)
merupakan kerajinan yang memiliki keunikan dan spesifik, karena
kerajinan ini diolah melalui tangan-tangan terampil yang penuh dengan
kesabaran dan ketekunan. Sentra industri kerajinan patung sapi terdapat
di desa Banaran Kecamatan Malo dan sekitarnya. Prospek pasar produk
telah menjangkau kota-kota di Propinsi Jawa Timur dan propinsi lainnya
serta ke luar negeri sebagai bahan souvenir.
c. Gerabah
Desa rendeng Kecamatan Malo yang berada di tepi bengawan solo, merupakan
sentra industri gerabah dengan sumber bahan baku dari tanah liat.
Produk utama berupa “celengan” (tempat menabung uang) dengan bentuk meniru bentuk binatang seperti macan, sapi, bebek dan bentuk lainnya yang unik.
d. Batu ONYX
Bojonegoro memiliki tambang batu onix yang melimpah sehingga berbagai
produk kerajinan onix dapat dihasilkan dengan kualitas sangat memuaskan.
Rekahan-rekahan yang mengandung batu ONYX yang berada di gunung kramat
di desa Jari, kecamatan gondang dan sekitarnya. Penduduk setempat telah
mengusahakan sebagai usaha kerajinan dengan produk berupa souvenir,
ornamen penghias ruang dan perabot rumah tangga dengan prospek pasar selain pasar lokal juga telah menjangkau pasar di luar Kabupaten Bojonegoro.
e. Batik Jonegoroan
Industri kerajinan batik yang terkenal di Kabupaten Bojonegoro yaitu
motif batik Jonegoroan. Beberapa kecamatan yang menjadi sentra industri
batik daerah tersebut antara lain di Kecamatan Sumberejo, Temayang,
Dander, Purwosari, dan Kecamatan Kota Bojonegoro.
3) Wisata
a. Tirtawana Dander
Terletak
di Desa/Kec. Dander dengan jarak tempuh sekitar 12 KM ke arah selatan
kota Bojonegoro. keunggulan dari wisata ini yaitu tempat yang sangat
luas dan dilengkapi dengan padang golf, wisata ini sangat cocok untuk
anak-anak karena selain padang golf, disana juga terdapat berbagai macam
permainan anak-anak, seperti taman bermain, kolam untuk mandi bola,
kolam renang dan sungai yang sangat jernih dengan keadaan sekelilingnya
yang sejuk dan tentu saja bebas dari polusi.
b.Kahyangan Api
Berlokasi di Desa Sendangharjo Kec. Ngasem dengan jarak tempuh sekitar 21 KM ke arah barat Kota. Kahyangan Api merupakan sumber api alam yang menyala sepanjang tahun.
dan terletak pada posisi yang sangat strategis yaitu dikelilingi oleh
hutan-hutan yang dilindungi dan bebas dari pencemaran polusi. selain
sumber api abadi di kahyangan api juga terdapat mata air yang
konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Anehnya air ini
dari jauh berbau busuk tetapi setelah mendekat baunya itu hilang dan
dari jauh air ini kelihatang seperti air mendidih tetapi kalau kita
sudah mengambilnya maka air tersebut terasa dingin dan sejuk.
c.Waduk Pacal
Berlokasi di Kecamatan Temayang dengan jarak tempuh sekitar 36 KM ke
arah Selatan Kota, dengan fasilitas Wisata alam pegunungan perairan,
memancing dan berperahu. Wisata ini menyuguhkan lingkungan alam yang
sangat mempesona karena di kelilingi oleh bukit-bukit yang sangat indah.
e.Negeri Atas Angin
Atas angin adalah nama sebuah desa di kawasan kecamatan Sekar,
Bojonegoro yang berbatasan langsung dengan kabupaten Madiun. Objek
wisata ini memberikan pemandangan di atas puncak yang tentunya akan
membuat anda terkagum-kagum dan mensyukuri keindahan yang maha kuasa.
Untuk mencapai tempat ini, perjalanan yang anda lalui cukup mudah karena
letaknya yang hanya berada di ketinggian 650 Mdpl.
f.Bendungan Gerak
Bendungan Gerak Bojonegoro adalah bendungan pada Bengawan Solo yang terletak di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu dan Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Peroyek Bendungan yang menghabiskan dana pinjaman senilai Rp.351 miliar
dari Japan International Corporation Agency (JICA) itu memiliki
multifungsi. Antara lain sebagai pengendali banjir, irigasi, penyedia
air baku bagi industri dan rumah tangga juga dicanangkan sebagai salah
satu tempat wisata bagi Kabupaten Bojonegoro. Keberadaan Bendungan Gerak
ini fungsinya di samping sebagai penyedia air untuk rumah tangga,
pertanian, juga sekaligus menjaga dari kerusakan ekosistem sungai Bengawan Solo supaya tak meluas ketika banjir menerjang dan sebagai bentuk tata kelola air di Jawa Timur.
4) Perkebunan dan Pertanian
a. Blimbing Ngringinrejo 
b. Salak Wedi
Salah satu industri agrobisnis yang berkembang pesat di daerah
Bojonegoro yaitu potensi bisnis salak wedi. Salak tersebut dinamakan
wedi sesuai dengan nama desa tempat asalnya, yaitu di Desa Wedi,
Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Salak Wedi rasanya manis, masir,
renyah, segar dan besar. Yang dapat dijumpai di setiap pekarangan rumah
penduduk di desa Wedi Kecamatan Kapas dan sekitarnya. Perbedaan Salak
Wedi dengan salak lain, seperti Salak Pondoh, adalah kandungan air yang
lebih banyak sehingga membuat Salak Wedi terasa lebih segar, hal inilah
yang menjadikan salah wedi banyak diburu para konsumen sebagai buah
tangan khas Bojonegoro.
c.Tembakau
Bojonegoro adalah penghasil tembakau virginia terbesar di Indonesia dan telah lama dikenal sebagai tembakau terbaik di dunia. Selain tembakau virginia ada juga Tembakau Jawa yang ditanam petani secara konvensional hampir di wilayah Bojonegoro dan telah di eksport ke Jerman, Hongkong dan Brunai.
Kepala Daerah Bojonegoro
- Sebelum kemerdekaan
| Tahun | Nama |
|---|---|
| 1943-1945 | R. Tumenggung Oetomo |
| 1937-1943 | R. Tumenggung Achmad Surjodiningrat |
| 1936-1937 | R. Dradjat |
| 1916-1936 | R. Adipati Aryo Kusumoadinegoro |
| 1890-1916 | R. Adipati Aryo Reksokusumo |
| 1888-1890 | R. M. Sosrokusumo |
| 1878-1888 | R. M. Tumenggung Tirtonoto II |
| 1844-1878 | R. Adipati Tirtonoto I |
| 1828-1844 | R. Adipati Djojonegoro |
| 1827-1828 | R. Tumenggung Sosrodilogo |
| 1825-1827 | R. Adipati Djojonegoro |
| 1823-1825 | R. Tumenggung Purwonegoro |
| 1821-1823 | R. Tumenggung Sosrodiningrat |
| 1816-1821 | R. Tumenggung Sumonegoro |
| 1811-1816 | R. Prawirosentiko |
| 1800-1811 | R. Ronggo Djenggot |
| 1760-1800 | R. M. Guntur Wirotedjo |
| 1756-1760 | R. Purwodidjojo |
| 1755-1756 | R. Ronggo Prawirodirjo I |
| 1743-1755 | R. Tumenggung Hario Matahun III |
| 1741-1743 | R. Tumenggung Hario Matahun II |
| 1718-1741 | Ki Songko (R. Tumenggung Hario Matahun I) |
| 1705-1718 | Ki Wirosentiko (R. Tumenggung Surowidjojo) |
| 1677-1705 | Pangeran Mas Toemapel |
- Sesudah kemerdekaan
| Tahun | Nama | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2013-2018 | Drs. H. Suyoto, M.Si. | |||||
| 2008-2013 | Drs. H. Suyoto, M.Si. | |||||
| 2003-2008 | Kolonel Inf (Purn.) H.M. Santoso | |||||
| 1998-2003 | Drs. H. Atlan | |||||
| 1993-1998 | Drs. H. Imam Soepardi | |||||
| 1988-1993 | Drs. H. Imam Soepardi | |||||
| 1983-1988 | Drs. Soedjito | |||||
| 1978-1983 | Drs. Soeyono | |||||
| 1973-1978 | Kolonel Inf (Purn.) Alim Sudarsono | |||||
| 1968-1973 | Letkol Inf (Purn.) Sandang | |||||
| 1960-1968 | R. Tamsi Tedjo Sasmito | |||||
| 1959-1960 | R. Soejitno | |||||
| 1955-1959 | R. Baruno Djojoadikusumo | |||||
| 1951-1955 | Mas Kusno Suroatmodjo | |||||
| 1950-1951 | R. Sundaru | |||||
| 1949-1950 | R. Tumenggung Sukardi | |||||
| 1947-1949 | Mas Surowijono | |||||
| 1945-1947 | R. Tumenggu |
Monumen atau Penghargaan di Bojonegoro
1. patung pahlawan Lettu,Sujitno
patung ini terletak di tengah alun-alun kota bojonegoro, patung ini dikelilingi oleh taman yang asri sebagai perwujudan menghormati Lettu.Sujitno
2. patung pahlawan di TMP Bojonegoro
patung ini terletak di sebelah selatan alun-alun kota Bojonegoro, patung ini juga dikelilingi dengan makam-makam pahlawan yang memperjuangkan Bojonegoro.
3.Monumen Adipura
Monumen atau penghargaan yang diberikan kepada Bojonegoro atas kebersihan dan keindahan kota dan kerapian penataan kota Bojonegoro
4.Bundaran Jetak
Bundaran ini bisa traveler temukan jika datang ke Bojonegoro dari
arah barat. Sementara perempatan di bundaran ini menuju ke daerah-daerah
lain seperti Nganjuk jika mengambil jalan ke arah selatan, Cepu di sisi
barat dan pusat kota Bojonegoro jika traveler mengambil jalan yang
menuju arah utara dan timur.
Pada rentang tahun 90-an hingga 2010, Bundaran Jetak hanya berupa bundaran biasa yang di tengahnya terdapat tiang lampu sebagai penerangan jalan. Namun tahun 2011, bundaran tersebut direnovasi untuk memunculkan nilai estetikanya dengan menambahkan taman air oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Bojonegoro.
Pada rentang tahun 90-an hingga 2010, Bundaran Jetak hanya berupa bundaran biasa yang di tengahnya terdapat tiang lampu sebagai penerangan jalan. Namun tahun 2011, bundaran tersebut direnovasi untuk memunculkan nilai estetikanya dengan menambahkan taman air oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Bojonegoro.
Terima Kasih atas perhatiannya jika ada salahnya mohon coment








Tidak ada komentar:
Posting Komentar